Posts

Kamu yang Mempesona

Image
Sebuah keprihatinan pada fenomena yang terlihat semakin dekat dan terus berkembang luas merusak generasi penerus bangsa.

=====================================

Mungkin warganet yang budiman belum pernah mengetahui atau merasakan pengalaman aktual dari dekat terkait kasus-kasus tersebut. Tapi bukan berarti fenomena perzinahan, kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, kekerasan seksual dan kasus terkait tidak mungkin terjadi di sekitar kita.

Apabila anda memiliki waktu luang, perkenankan saya mengajak anda untuk membaca cerita pendek berikut untuk merefleksikan bahwa kesialan punya cara yang misterus untuk datang. Namun jika anda hanya penasaran dengan pesan yang ingin disampaikan dari artikel ini dan tidak ingin membuang waktu, silahkan langsung ke bagian akhir cerita ini:

=====================================

Aku duduk dalam bus antarkota sambil melihat ke sisi kanan kaca. Keramaian lalu lintas dipersimpangan lampu merah, mengingatkanku 1 jam lagi aku akan sampai di kampung halamanmu.

La…

Penguasa yang Rendah Hati & Bijak

Image
Dimulai dari ayat ke-83 Surat Al Kahfi, kita temukan sebuah kisah tentang Dzulqarnain di dalam Al Qur'an. Seorang penguasa rendah hati nan bijaksana yang beriman kepada Allah swt.

Allah mengisahkan dalam surat tersebut tentang kebiasaan Dzulqarnain yang suka melakukan perjalanan/ekspedisi. Hingga suatu ketika dia sampai di sebuah tempat diantara dua gunung, Dzulqarnain bertemu dengan suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan maksud dari tidak memahami pembicaraan adalah karena kaum tersebut hidup di wilayah yang cukup terisolir dari dunia luar, hal ini menyebabkan perkembangan bahasa mereka jauh berbeda dari kaum-kaum di sekitar wilayah tersebut. Untungnya ada penerjemah yang membantu Dzulqarnain berkomunikasi dengan kaum ini.

"Wahai Zulkarnain! Sungguh, Ya'juj dan Ma'juj (sekelompok manusia) berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara ka…

Memaknai Hijrah (Part 1) – Ukhuwah Islamiyah

Saat anda dinobatkan sebagai pemimpin/raja/presiden, hal apa yang anda lakukan pertama kali?
Memesan Nasi Goreng... Menghapus suatu peraturan... Atau menetapkan hari libur nasional... Mungkin?

Kali ini saya ingin membawa anda kembali ke masa lalu, pada 14 abad yang lalu ketika Nabi Muhammad saw memimpin umat muslim setelah berhijrah dan sampai di Yatsrib/Kota Madinah.

Lalu apa yang dilakukan Rasulullah saw pertama kali sebagai pemimpin kaum Muslimin di Madinah?

Mungkin anda akan menjawab, membangun Masjid Quba atau membuat Piagam Madinah namun saya lebih memilih ini: di Kota Madinah, pertama kali, sebagai pemimpin kaum Muslimin, Rasulullah saw ‘mempersaudarakan’ kaum Muslimin dari kalangan Muhajirin dengan kalangan Anshar.

Peristiwa ini menandai sebuah gagasan di dalam Islam: persaudaraan tidak terikat pada hubungan darah, melainkan lebih luas dari itu, yaitu atas hubungan pertalian kebenaran yang satu dan keyakinan yang sama, persaudaraan dalam Islam dan Iman kepada Allah swt.

Kita m…

Memaknai Hijrah (Intro) – Bukan yang Terlihat, Tapi yang Dirasa

Saya terlahir dari keluarga yang tidak memiliki tradisi ke-Islam-an yang kuat. Sepanjang yang saya tahu saya tidak memiliki leluhur Kiyai atau Ulama. Saya ikut pondok pesantren paling lama saat pesantren kilat Ramadhan di SD, SMP, dan SMA. Namun Alhamdulillah, Allah dengan cara yang luar biasa menuntun saya menyadari kekurangan diri sebagai hamba, sehingga saya memutuskan untuk berhijrah.

By the way, saya laki-laki biasa. Bukan pisang goreng.

Kenapa perlu saya jelaskan kalau saya ini laki-laki?
Well karena di akun-akun dakwah media sosial, saat kita bicara tentang hijrah, kebanyakan konotasi yang diangkat berasal dari perspektif muslimah. Kita melihat ungkapan...

Hirah itu memperbaiki diri...
Hijrah itu merubah diri...
Hijrah itu memantaskan diri...
Hijrah itu meninggalkan kamu... (?) dst...

Saya melihat hijrahnya kaum hawa lebih mudah “diamati” daripada kaum adam. Kita ambil satu contoh yang paling mencolok, perubahan gaya pakaian. Banyak muslimah yang sehari-harinya masih menggunaka…

Everyone Have Their Ups & Downs

Hari ini Muzzammil akad nikah ya? Iyelah, sampe rame dimana-mana, dari stasiun tv, surat kabar apalagi sosmed. Gw yang liburan gini jarang buka sosmed, sekalinya buka males lagi jadinya, habis gw nemu banyak  yang rame pake #hariakhwatberdukanasional segala.

Gw yakin banyak yang ngebatin gini nih pas liat liputan/foto nikahannya, “Ih enak yaa...”

Soalnya gw juga ngebatin gitu wkwkwk

Mungkin habis ini akan gak nyambung sama nikahannya Si Akang suara merdu ini, but hopefully you’re still curious about it.

Oke, gw rasa sudah cukup yaa... tulisannya...

Eh bukan-bukan, becanda doang hehe... maksud gw udah cukup yaa untuk kakak-kakak, dedek-dedek, teteh-teteh, mba-mba, atau tante-tante yang “lil’ bit dissappointed” dengan kabar gembira hari ini. I’m pretty sure there is at least (a girl/akhwat) yang ngebatin semacam, “Beruntung yaa dapet suami kayak Muzzammil” atau, “Duh pengen deh dilamar sama hafizh Qur’an kayak dia” and also maybe, “Kapan ya giliranku...”

Gw pikir-pikir yang “silau” atau “kepe…

Pesan (serius) untuk adik-adik tingkat yang bergabung dengan ormawa di kampus

Akun-akun resmi ormawa akhir-akhir ini banyak yang posting pengurus harian/kabinet baru. Ada juga yang udah buka OPREC. Itu tandanya adik-adik angkatan 2016 yang sudah diangkat akhirnya berhak menjadi “aktivis kampus”. (Bagi yang berkeinginan)

Bukannya mau sombong, tapi saya juga pernah merasakan masa seperti ini sebelum jadi seorang aktivis. Gak sedikit dek mas-mbamu di organisasi yang tidak mau mengakui label/identitas diri sebagai aktivis, mungkin karena budaya ‘sungkan’ yang sudah bercokol lama di tanah Jawa ini. Sehingga sehari-hari mereka lebih suka memakai istilah yang lebih formal seperti staff atau fungsionaris. Namun bagi saya, mengakui sebuah identitas merupakan bagian dari ‘mawas diri’. Bahwa pada setiap peran-jabatan-identitas datang sebuah fungsi diri dan konsekuensi, atau istilah yang lebih mudah: tanggung jawab.

Bagi kalian yang akan mendaftar HMJ; BEM; UKM; LD; atau Organisasi apapun, itulah pesan pertama dari saya, mawas dirilah dek. Sadari dan pahami betul siapa dir…

Day 1 Training Spiritual & Kuliah Kebangsaan: Waspada rek!

Teringat pada pengalaman pribadi 3 tahun yang lalu saat berada di Training Spiritual mahasiswa baru ITS. Sekitar 4 ribu atau lebih mahasiswa baru ITS mengikuti kegiatan ini setiap tahunnya. Dahulu namanya masih sekedar “Pelatihan/Training Spiritual” tanpa ada tambahan “...Kuliah Kebangsaan” –nya.

Mungkin Training Spiritual merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan orientasi bagi mahasiswa baru, setidaknya itu kesan yang saya dapat pertama kali saat menjadi peserta 3 tahun lalu. Waktunya cukup singkat karena berjalan sehari, tapi dampaknya masih terasa bagi saya hingga sekarang.

Saya ingat ada sesi dimana para peserta diajak untuk menyusun “Rencana Hidup/Life’s Plan“ selama berkuliah hingga lulus. Sederhananya target/prestasi apa yang ingin kami raih atau kegiatan apa saja yang ingin kami lakukan selama sekitar 5-10 tahun kedepan.

Tahukah kalian hasilnya sekarang? Pengalaman pribadi saya, sebagian besar yang saya tulis tidak terwujud hahaha... Tetapi banyak juga mahasiswa lain yan…